Transformasi Gerakan Sosial Keagamaan di Indonesia: Studi Tentang Gerakan Dakwah Kampus Menjadi Partai Keadilan di Indonesia

Studi ini bermaksud mendeskripsikan sebuah gerakan sosial keagamaan yang tumbuh dan berkembang di Indonesia, terutama pada dua dasawarsa trerakhir abad ke-20. Gerakan sosial keagamaan yang menjadi obyek studi ini adalah sebuah gerkana dakwah Islam#SEP#Studi ini bermaksud mendeskripsikan sebuah gerakan sosial keagamaan yang tumbuh dan berkembang di Indonesia, terutama pada dua dasawarsa trerakhir abad ke-20. Gerakan sosial keagamaan yang menjadi obyek studi ini adalah sebuah gerkana dakwah Islam. M. Ali Said J.S. Damanik.

Studi ini bermaksud mendeskripsikan sebuah gerakan sosial keagamaan yang tumbuh dan berkembang di Indonesia, terutama pada dua dasawarsa trerakhir abad ke-20. Gerakan sosial keagamaan yang menjadi obyek studi ini adalah sebuah gerkana dakwah Islam yang berbasis di kampus-kampus Perguruan Tinggi, yang untuk mudahnya disebut sebagai “Gerakan Dakwah Kampus” (GDK).

Kehadirannya dalam wacana gerakan keagamaan di Indonesia cukup unik. Karena, meski dapat digolongkan sebagai bagian dari gerkana modernisme Islam, tetapi agak sulit dicarikan akar hubungannya dengan gerakan keagamaan Islam yang pernah ada di Indonesia pada masa lalu. Kehadirannya berhubungan erat dengan pengaruh gerakan Islam Internasional yang berkembang di Mesir, yaitu Ikhwanul Muslimin, yang pada dua dasawarsa akhir abad 20, pengaruhnya sangat terasa di berbagai negara di dunia.

Di Indonesia, gerakan ini berkembang dalam konteks kehidupan sosial politik yang tengah berubah. Tumbuh di tengah tekanan kekuasaan orde baru, berkembang dalam sebuah iklim kekuasaan yang mulai bersahabat dengan kalangan Islam pada era 90-an, dan menegaskan eksistensinya dengan mendirikan sebuah partai politik, beberapa saat setelah tumbangnya Orde Baru oleh Gerakan Reformasi pada tahun 1998.

Dalam kurun dua dasawarsa, sejak awal 80-an, gerakan yang dimotori oleh anak-anak muda terdidik yang berbasis di perkotaan ini mampu memberi andil dalam proses pembentukan opini dan kecenderungan di tengah publik. Simbol-simbol keagamaan yang identik dengan gerakannya, kini diterima luas. Pemakaian busana muslimah—seperti jilbab—adalah salah satu dari keberhasilan gerakan ini mensosialisasikan nilainya dan membentuk—tidak saja opini tetapi juga—kultur di tengah masyarakat. Setelah labih dari satu dasawarsa bergerak dalam pemberdayaan masyarakat, khususnya dalam pembangunan counter culture dikalangan kaum muda, pada momentum reformasi, gerakan dakwah ini membidik perjuangan strutural, pada level negara, dengan mendirikan Partai Keadilan. Meski, pendirian partai politik itu tetap mereka niatkan dalam kerangka pengembangan misi dakwahnya. Sejak itu, Partai Keadilan menjadi fenomena tersendiri dalam langit perpolitikan Indonesia.

Proses penyajiannya dilakukan dengan cara deskriptif, di mulai dari rekonstruksi kemunculannya pada era 80-an, perkembangannya pada tahun 90-an dan aktualisasinya saat mendirikan partai politik pada tahun 1998. Pada bagian tertentu penulis juga memasukkan analisis dari fenomena gerakan tersebut, dibandingkan dengan gerakan serupa yang ada di tanah air. Pendekatan penelitian ini adalah kualitatif, mengingat gejala yang diteliti adalah sebuah gejala sosial yang terus menjadi (becoming) dan dinamis. Penulis mewawancara sejumlah narasumber kunci yang terlibat dalam proses pengembangan gerakan ini pada awal kemunculannya, tokoh-tokoh muda aktifis GDK-nya, serta tokoh-tokoh kunci yang sekarang duduk di kepengurusan Partai Keadilan.

Studi ini menjadi menarik, karena sebelumnya belum pernah dilakukan, apalagi dengan membidiknya dari sisi sosiologis. Padahal sebagaimana teramati, kecenderungan perkembangan gerakan sosial keagamaan ini, sangatlah pesat. Di kampus-kampus mereka menjadi kekuatan sosial tersendiri lengkap dengan simbol-simbolnya. Sementara dalam belantara politik partai yang mereka dirikan—Partai Keadilan—termasuk dalam the big seven pemenang pemilu 1999, yang aksi-aksi politiknya menjadi fenomena tersendiri.