Komunitas Perbatasan: Nasionalisme di Tapal Batas Negara

Thursday, December 12, 2013, Venue : FISIP UI Depok, Organizer : Departemen Sosiologi FISIP UI

Komunitas Perbatasan: Nasionalisme di Tapal Batas Negara

Paulus Wirutomo, Lugina Setyawati dan Daisy Indira Yasmine

Universitas Indonesia

Abstrak. Praktek nasionalisme dalam komunitas perbatasan menyajikan realitas yang khas. Hal ini berangkat dari konteks historis dan pengalaman kehidupan sehari-hari yang membedakannya dengan komunitas dalam teritori negara (heartland of the nation- Schofield, 1994). Dalam perspektif negara modern, konsepsi perbatasan berkaitan dengan simbolisasi batas demarkasi teritorial dan kedaulatan (sovereignty) negara (Hoseason,2010; Sofield, 2006). Dalam era globalisasi, kemajuan teknologi (moda) transportasi, informasi, dan media memberikan peluang mencairnya batas-batas non fisik antar negara. Studi ini bermaksud mengkaji relasi dan interaksi sosial antar komunitas perbatasan di ujung perbatasan Kalimantan-Indonesia dan Sarawak-Malaysia. Melalui observasi, wawancara dan survei, studi ini berfokus pada pembahasan dimensi sosio-kultural, ekonomi, dan politik yang memainkan peranan penting dalam mengkonstruksi relasi dan interaksi sosial yang khas antar komunitas lintas perbatasan. Selain itu, studi ini mengurai ruang dan arena tempat pertemuan dan interaksi dua komunitas bangsa tersebut. Kerangka pembahasan menggunakan gagasan integrasi sosial (sebagai manifestasi ikatan yang bersifat sosio-kultural) dan integrasi nasional (sebagai representasi ikatan berbasis lega-formal dalam entitas komunitas politik) yang bekerja melalui prinsip normatif, fungsional dan koersif. Hasil studi menunjukkan interaksi antara ikatan kultural (sebagai anggota komunitas kultural dayak yang bersifat transnasional) dan ikatan politik (sebagai Indonesian citizen) telah berperan dalam interaksi yang berlangsung dalam ranah ekonomi (pasar), sosio-kultural (ragam aktivitas sosial dan budaya-kesenian), dan politik. Cultural belonging yang bersifat transnasional tidak serta merta menghapus imajinasi kebangsaan dan belonging ke-Indonesiaan. Kemajuan teknologi media dan infrastruktur fisik di satu justru membantu dan memfasilitasi intensitas dan frekuensi interaksi lintas perbatasan, di sisi lain juga meningkatkan interaksi dengan heartlanddan mengurangi marginalisasi komunitas perbatasan. Integrasi sosial yang kuat antar komunitas perbatasan tidak berdampak langsung pada ‘disintegrasi nasional’. Belonging keIndonesiaan tetap hadir ditandai dengan rendahnya keinginan berpindah warganegara. Desentralisasi di tingkat kabupaten yang berpeluang terhadap perubahan kondisi sosial ekonomi komunitas perbatasan marupakan salah satu faktor penting dalam memelihara nasionalisme warga.