Studi Formatif terhadap Anak Putus Sekolah

Kemiskinan adalah salah satu penyebab mengapa anak berhenti sekolah, khususnya pada transisi dari SD ke SMP. Namun, situasi ekonomi tersebut ternyata bukanlah satu-satunya faktor yang menyebabkan anak-anak tidak bersekolah. Pada kenyataannya, keluarga miskin dapat membiayai anaknya hingga lulus SMP sementara keluarga dengan status ekonomi lebih baik memiliki anak yang tidak lulus SMP. Persoalan sosial budaya yang memiliki pengaruh kepada anak-anak ataupun keluarga untuk tetap atau berhenti sekolah perlu dipahamilebihmendalam. Oleh karenaitu, studi formatif ini akan mengungkap faktor – faktor non-ekonomi tersebut, untuk mengembangkan strategi komunikasi sosial yang bertujuan untuk perubahan sikap sehingga dapat mendorong masyarakat untuk mempertahankan anak-anak mereka untuk bersekolah. Studi ini dilakukan melalui kerjasama antara UNICEF, Roy Morgan, Jati Diri, dan Pusat Kajian Sosiologi Universitas Indonesia.

Secara umum, tujuan dari studi ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan anak tidak bersekolah, terutama di tingkat SMP, termasuk hambatan dan motivasi anak dan orang tua. Secara khusus, studi ini dilakukan untuk melengkapi penelitian sebelumnya dengan tema yang sama dan menjadi dasar dalam rangka mengembangkan strategi komunikasi perubahan sosial budaya untuk mendorong keluarga-keluarga agar mempertahankan anaknya terusb ersekolah. Informasi yang dibutuhkan dalam penelitian ini meliputi latar belakang anak – anak yang tidak bersekolah, peran norma – norma sosial, peran orang tua serta keluarga, peran guru dan sekolah, penyelesaian melalui strategi komunikasi, tipe informasi yang seharusnya disalurkan oleh penyedia pendidikan dan pemerintah, serta peran dari tokoh panutan.

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif di 2 wilayah dengan tingkat putus sekolah tinggi dan 2 wilayah dengan tingkat putus sekolah rendah. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancata mendalam, Focus Group Discussion (FGD), observasi, dan analisa data sekunder. Studi ini juga melakukan Participatory Learning Action (PLA) yaitu memfasilitasi proses pembelajaran dan analisa gabungan dengan anggota masyarakat, untuk dianalisa bersama dengan hasil wawancara mendalam dan FGD.