Rural Ecological Society

Prescription regarding ecological society that being measured from the relationship between ecological conservation and economic needs of the local community, regional, or national

Robert M.Z. Lawang, Prof. Dr. (Koordinator)

Focus:
Sosiologi Perdesaan

 

Nanu Sundjojo, S.Sos., M.Si.

Focus:
Sosiologi Lingkungan, Sosiologi Pedesaan

email: 
nanu.sundjoyo@ui.ac.id

More info

 

Erna Karim, Dr., M.Si.

Focus:
Sosiologi Keluarga, Sosiologi Kesehatan

email: 
erna.karim09@ui.ac.id

More info

 

Shanty Novriaty, Dra., M.Si

Focus:
Sosiologi Lingkungan, Sosiologi Komunitas

email: 
shanty.novriaty@ui.ac.id

More info

 

Siaran Pers I

Kegiatan: Diskusi RC Perdesaan dengan Dr. Tonjti Soumokel (Dosen Pascasarjana Pattimura Ambon) dengan tema Masalah Pedesaan di Provinsi Maluku

 

Maluku, Gambaran Keragaman Desa di Indonesia

Pada Jumat 21 April 2017 lalu, Research Cluster Rural Ecological Society mengadakan diskusi internal dengan mengundang Dr. Tonjti Soumokel dari Pascasarjana Pattimura Ambon sebagai narasumber untuk menggambarkan masalah perdesaan di provinsi Maluku. Agenda diskusi ini merupakan salah satu upaya dari RC Rural Ecological Society untuk mengambarkan masalah dan konteks perdesaan di Indonesia yang beragam, sebagai langkah untuk transformasi sosial kearah masyarakat inklusif.

Masalah desa di Maluku tidak bisa disamakan dengan desa-desa di Indonesai yang lainnya. Dr. Tontji Soumokel menyatakan bahwa keadaan geografi Maluku yang memiliki lebih dari 1.400 pulau dengan total 11 kabupaten kota dan 1224 desa yang terpencar di pulau-pulau menyebabkan adanya permasalahan akses terhadap transportasi. Namuan kebijakan pemerintah belum mampu menanggulagi hal tersebut, karena bentuk kebijakan yang seragam.

Dr. Tontji Soumokel juga menguraikan bahwa Maluku memiliki kurang lebih 96 kelompok masyarakat – atau kelompok etnis – berdasarkan bahasa yang berbeda dan juga memiliki wilayah transmigran yang sebagian besar berasal dari Jawa. Keadaan ini menyebabkan adanya pola konsumsi lokal yang berbeda-beda yang juga dikarenakan setiap pulau memiliki tanaman lokalnya sendiri. BPS yang mengacu pada standar pangan seragam, tidaksesuai dengan konteks masyrakat Maluku, perlu mengkonversikan indikator yang sesuai dengan kondisi perdesaan yang beragam. Fokus perhatian kepada pangan lokal akan dapat menciptakan ketahanan pangan bagi masyarakat lokal.

Menanggapi hal tersebut Daddi H. Gunawan memberi menjelasan, “pangan lokal dan adat sebenarnya memiliki keterkaitan. Pengolahan pangan lokal merupakan bentuk sumber daya yang terikat dengan ulayat, sehingga pengembangan pangan lokal tidak bisa lepas dari adat”. Pangan lokal yang menyatu dengan adat dan adat yang menyatu dengan masyarakat harus dipahami oleh pemerintah dan dijadikan acuan dalam merumuskan kebijakan.

Desa adat yang memilik potensi tersebut menurut Prof Robert Lawang secara lembaga adat telah memiliki potensi yang kemudian perlu dikembangkan, dalam usaha pengembangan ini perlu sebuah upaya untuk menyandingkan desa adat dengan modernisasi. Konsep Sasi dan Ketuanan harus diakui, kemudian pengakuan tidak boleh hanya sebatas pengakuan saja, namun perlu adanya tindakan, seperti melakukan sebuah rekayasa sosial untuk mewadahi pemikiran kreatif tentang modernitas berbasis lokal.

Kegiatan diskusi ini dihadiri oleh Dr. Tonjti Soumokel (Dosen Pascasarjana Pattimura Ambon), Prof Rober Lawang (Sosiologi UI) selaku koordinator RC Rural Ecological Society, Nanu Sunjdojo (Dosen Sosiologi UI) anggota RC Rural Ecological Society, Daddi H. Gunawan (Sosiologi) anggota RC Rural Ecological Society, Bunga Pertiwi (Mahasiswa Sosiologi UI) anggota RC Rural Ecological Society. Kegiatan diskusi seperti ini akan dilakukan secara berkala sebegai agenda RC Rural Ecological Society.

Notulensi diskusi http://bit.ly/NotulensiRCRural21April17