“Model Pengembangan Pertanian Organik Berbasis Digital Trust: Alternatif Pengganti Sertifikat Berlabel” sebuah Penelitian Kerjasama Rispro LPDP-Research Cluster Rural Ecological Society

Penelitian Hibah Rispro-LPDP dengan Judul “Model Pengembangan Pertanian Organik Berbasis Digital Trust: Alternatif Pengganti Sertifikat Berlabel” merupakan penelitian yang mencoba untuk menggembangkan sebuah sistem interaksi antara petani dengan konsumen, untuk menumbuhkan digital trust. Digital trust ditempatkan sebagai alternatif sertifikat organik yang tidak terjangkau oleh petani kecil.

Penelitian ini melihat bahwa mekanisme sertifikat organik justru mempersulit petani organik (khususnya petani gurem) untuk mengembangkan usahanya. Sertifikat organik yang digunakan sebagai jaminan terhadap produk untuk mendapatkan kepercayaan konsumen, pada akhirnya hanya menempatkan produk organik sebagai “label-trust” semata. “Label-trust” ini hanya dapat didapatkan dengan harga yang mahal sehingga petani kecil tidak dapat menjangkaunya. Akhirnya produk pangan sehat – organik – merupakan sebuah produk pangan yang eksklusif.

Penelitian akan dilakukan di 3 Kabupaten di NTT yaitu: Kabupaten Manggarai, Kabupaten Manggarai Barat, dan Kabupaten Manggarai Timur. Ketiga wilayah ini memiliki potensi geografis yang sesuai untuk pengembangan pertanian organik. Selain itu data BPS tahun 2013 memperlihatkan jumlah petani gurem, baik organi maupun non-organik, di ketiga kabupaten masuk dalam deretan lima besar terbanyak se-Provinsi NTT.

Terdapat beberapa kelompok tani organik, salah satunya adalah kelompok tani organik yang berada dibawah asuhan Ekopastoral Pagal yang memproduksi pangan organik tanpa sertifikat – khususnya di Kabupaten Manggarai. Selama ini kelompok tani tersebut mengandalkan pasar konvensional, dengan konsumen datang langsung ke kebun petani untuk membeli seperlunya. Potensi produks petanian organik terutama sayur, tersebar secara sporadic di semua kabupaten di pulau Flores melalui pelatihan yang dilakukan oleh Ekopastoral sejak tahun 2000. Meskipun tidak diketahui berapa banyak yang masih bertahan, akan tetapi besar kemungkinan bahwa pertanian organik masih dipraktekkan di setiap biara, paroki (Katolik) untuk konsumsi sendiri. Sedangkan potensi pasar organik terbuka lebar sejalan dengan berkembangnya pariwisata yang membutuhkan pasokan pangan organik. Manggarai Raya memiliki berbagai objek wisata alam yang banyak dikunjungi oleh wisatawan baik domestik maupun mancanegara

Kesempatan ini perlu dioptimalkan untuk meningkatkan kesejahteraan petani organik – khusunya petani gurem. Maka dari itu perlu sebuah mekanisme rantai pangan yang mampu menghubungkan petani organik yang ada dengan konsumen atau pasar. Penelitian ini mencoba mengembangkan Open Data Kit dan Google Fussion Table (ODK-GFT) sebagai mekanisme yang hubungkan petani organik dengan konsumen, dengan berlandaskan digital trust untuk mengganti sertifikat organik yang tidak terjangkau petani kecil. Penggunaan ODK-GFT sebenarnya sudah dilakukan dalam bidang pertanian dibeberapa negara berkembang, dimana pemanfaatan ODK-GFT memiliki manfaat langsung terhadap petani.

Penelitian Hibah Rispro-LPDP dengan Judul “Model Pengembangan Pertanian Organik Berbasis Digital Trust: Alternatif Pengganti Sertifikat Berlabel” merupakan penelitian yang mencoba untuk menggembangkan sebuah sistem interaksi antara petani dengan konsumen, untuk menumbuhkan digital trust. Digital trust ditempatkan sebagai alternatif sertifikat organik yang tidak terjangkau oleh petani kecil.

Penelitian ini melihat bahwa mekanisme sertifikat organik justru mempersulit petani organik (khususnya petani gurem) untuk mengembangkan usahanya. Sertifikat organik yang digunakan sebagai jaminan terhadap produk untuk mendapatkan kepercayaan konsumen, pada akhirnya hanya menempatkan produk organik sebagai “label-trust” semata. “Label-trust” ini hanya dapat didapatkan dengan harga yang mahal sehingga petani kecil tidak dapat menjangkaunya. Akhirnya produk pangan sehat – organik – merupakan sebuah produk pangan yang eksklusif.

Penelitian akan dilakukan di 3 Kabupaten di NTT yaitu: Kabupaten Manggarai, Kabupaten Manggarai Barat, dan Kabupaten Manggarai Timur. Ketiga wilayah ini memiliki potensi geografis yang sesuai untuk pengembangan pertanian organik. Selain itu data BPS tahun 2013 memperlihatkan jumlah petani gurem, baik organi maupun non-organik, di ketiga kabupaten masuk dalam deretan lima besar terbanyak se-Provinsi NTT.

Terdapat beberapa kelompok tani organik, salah satunya adalah kelompok tani organik yang berada dibawah asuhan Ekopastoral Pagal yang memproduksi pangan organik tanpa sertifikat – khususnya di Kabupaten Manggarai. Selama ini kelompok tani tersebut mengandalkan pasar konvensional, dengan konsumen datang langsung ke kebun petani untuk membeli seperlunya. Potensi produks petanian organik terutama sayur, tersebar secara sporadic di semua kabupaten di pulau Flores melalui pelatihan yang dilakukan oleh Ekopastoral sejak tahun 2000. Meskipun tidak diketahui berapa banyak yang masih bertahan, akan tetapi besar kemungkinan bahwa pertanian organik masih dipraktekkan di setiap biara, paroki (Katolik) untuk konsumsi sendiri. Sedangkan potensi pasar organik terbuka lebar sejalan dengan berkembangnya pariwisata yang membutuhkan pasokan pangan organik. Manggarai Raya memiliki berbagai objek wisata alam yang banyak dikunjungi oleh wisatawan baik domestik maupun mancanegara

Kesempatan ini perlu dioptimalkan untuk meningkatkan kesejahteraan petani organik – khusunya petani gurem. Maka dari itu perlu sebuah mekanisme rantai pangan yang mampu menghubungkan petani organik yang ada dengan konsumen atau pasar. Penelitian ini mencoba mengembangkan Open Data Kit dan Google Fussion Table (ODK-GFT) sebagai mekanisme yang hubungkan petani organik dengan konsumen, dengan berlandaskan digital trust untuk mengganti sertifikat organik yang tidak terjangkau petani kecil. Penggunaan ODK-GFT sebenarnya sudah dilakukan dalam bidang pertanian dibeberapa negara berkembang, dimana pemanfaatan ODK-GFT memiliki manfaat langsung terhadap petani.