
Menjelang perayaan 500 tahun pada 2027, Jakarta menegaskan visinya sebagai kota inklusi sosial melalui optimalisasi ruang publik sebagai simpul kohesi, solidaritas, dan gotong royong warga. Penelitian LabSosio Universitas Indonesia di 267 kelurahan menunjukkan bahwa ruang publik Jakarta—didominasi taman dan RPTRA—memiliki potensi besar untuk dihidupkan sebagai ruang interaksi yang inklusif, dengan lebih dari 77% telah digunakan secara rutin dan 79% melibatkan beragam kelompok masyarakat. Meski demikian, tantangan tetap ada, mulai dari ketimpangan luas dan kualitas ruang antarwilayah, isu aksesibilitas, hingga keterbatasan partisipasi warga di beberapa kawasan. Di sisi lain, hampir 70% ruang publik memiliki potensi “quick win” yang dapat dioptimalkan melalui intervensi sederhana. Dengan memperkuat aksesibilitas, mendorong partisipasi komunitas, serta membangun kolaborasi lintas pemangku kepentingan, ruang publik Jakarta berpeluang menjadi fondasi penting dalam mewujudkan kota yang lebih inklusif, adaptif, dan berkelanjutan.
Untuk membaca dokumen lengkap Temuan Utama Penelitian, silakan mengakses laporan ringkasan eksekutif melalui tautan berikut: bit.ly/RingkasanEksekutifTitikTemu