
Bagaimana cara kita tahu bahwa anak-anak benar-benar peduli terhadap lingkungan? Apakah cukup dengan ikut lomba kebersihan kelas, atau justru perlu dilihat dari kebiasaan sehari-hari mereka? Pertanyaan-pertanyaan semacam inilah yang coba dijawab oleh LabSosio Universitas Indonesia melalui pengembangan instrumen baru untuk mengukur Perilaku Peduli Lingkungan Hidup (PPLH). Instrumen ini akan diperkenalkan pertama kali pada Filantrofi Festival, 6 Agustus 2025 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Instrumen ini dirancang untuk menilai sejauh mana perilaku peduli lingkungan hidup dapat diinternalisasi oleh siswa di sekolah. Dasar metodologinya merujuk pada teori Reasoned Action (Ajzen & Fishbein, 1980) dan Theory of Planned Behavior (Ajzen, 1991), yang kemudian dikembangkan lebih lanjut dalam konteks pendidikan lingkungan. Instrumen ini hadir sebagai alat ukur yang bisa menilai secara lebih objektif sejauh mana kepedulian lingkungan hidup di kalangan siswa sekolah dasar, menengah, hingga atas. Artinya, kepedulian lingkungan tidak hanya dilihat dari apa yang dilakukan, tetapi juga bagaimana pengetahuan, sikap, dan motivasi siswa terbentuk.
Instrumen Perilaku Peduli Lingkungan Hidup (PPLH) mencakup empat dimensi utama, yakni:
Secara lebih lanjut, indikator tersebut disesuaikan dengan tingkat pendidikan. Untuk tingkat sekolah dasar, pertanyaan di dalam indikator membahas tentang pemahaman dasar dan perilaku sederhana. Di tingkat Sekolah Menengah Pertama, pemahaman lebih mendalam dan partisipasi aktif menjadi pertanyaan dasar bagi instrument. Sementara itu, pemahaman komprehensif, berpikir kritis, serta kapasitas tindakan berdampak menjadi pembahasan instrument di tingkat Sekolah Menengah Atas atau Sekolah Menengah Kejuruan.
Tim peneliti mengembangkan instrumen PPLH melalui beberapa tahapan, terdiri atas kajian literatur dan analisis kebutuhan, pengembangan indikator dengan masukan dari berbagai pemangku kepentingan, validasi oleh para ahli menggunakan metode Content Validity Index (CVI), dan pembobotan indikator untuk melihat prioritas instrumen menggunakan Analytic Hierarchy Process. Tidak hanya itu, instrument ini juga dikaitkan dengan konsep Capability Maturity Model (CMM) untuk menilai tingkat kematangan sekolah dalam melaksanakan program peduli lingkungan (Adiwiyata). Dengan pendekatan ini, diharapkan hasil pengukuran lebih akurat dan bisa dipertanggungjawabkan.
Instrumen ini diharapkan dapat memberikan manfaat strategis, di antaranya adalah:
Pada akhirnya, instrumen ini bukan hanya soal angka atau skor, tetapi tentang menanamkan kepedulian sejak dini. Anak-anak yang tumbuh dengan kesadaran menjaga lingkungan akan menjadi generasi yang lebih siap menghadapi tantangan krisis iklim dan kerusakan alam di masa depan.