Website LABSOSIO FISIP UI

Diskusi Beatrice Zani

Diskusi Beatrice Zani

Precarity at Sea: Ketidakpastian Kerja Buruh Migran Asia Tenggara dalam Rantai Pasok Perikanan Global

Di balik keberlangsungan industri perikanan global yang mengisi meja makan kita dengan hasil laut, tersimpan kisah tentang kerja, pengorbanan, dan ketidakpastian. Riset yang dilakukan oleh  Dr. Beatrice Zani dari CNRS Prancis mengungkap sisi tersembunyi dari rantai pasok ikan internasional—khususnya peran buruh migran Asia Tenggara yang bekerja di kapal-kapal laut lepas dalam kondisi kerja yang sangat rentan.

Konteks: Buruh Migran Asia Tenggara dalam Industri Perikanan Global

Dalam beberapa dekade terakhir, industri perikanan global mengalami krisis profitabilitas yang mendorong eksploitasi tenaga kerja migran dari Asia Tenggara. Menurut ILO (2024), terdapat lebih dari 24 juta pekerja migran di sektor perikanan global, sebagian besar berasal dari wilayah Asia Timur dan Asia Tenggara. Taiwan, sebagai negara dengan armada perikanan jarak jauh terbesar kedua setelah Tiongkok, mempekerjakan sekitar 33.000 nelayan migran—23.000 di antaranya berasal dari Indonesia, sementara nelayan migran lainnya berasal dari Filipina, Vietnam, Kamboja, dan Tiongkok.

Tinjauan Literatur: Rantai Pasok Global dan Zona Abu-abu

Penelitian ini mengambil pendekatan konseptual mengenai kerja globalisasi dan memperkenalkan istilah “gray zones” atau zona abu-abu dalam rantai pasok. Zona ini merujuk pada wilayah ambiguitas hukum, sosial, dan ekonomi dalam sistem kerja transnasional, di mana deregulasi justru menciptakan ruang ketidakpastian yang luas, tetapi sekaligus peluang bagi para aktor di dalamnya.

Dr. Zani mengajukan tiga pertanyaan utama:

  • Bagaimana pengalaman kerja buruh migran Asia Tenggara di kapal-kapal perikanan?
  • Bagaimana pengalaman tersebut dibentuk oleh, sekaligus membentuk, sistem kerja global?
  • Bagaimana deregulasi dan praktik informal menghasilkan ketimpangan, tetapi juga membuka celah untuk bertahan hidup.

Penelitian ini bertujuan untuk menyelami zona abu-abu dalam kapitalisme rantai pasok, mengungkap relasi kuasa, kerentanan, dan cara-cara buruh migran menavigasi sistem kerja yang tidak sepenuhnya formal namun sangat terstruktur. Studi ini dilakukan melalui pendekatan kualitatif yang mendalam, dengan data diperoleh dari wawancara dan observasi langsung terhadap pekerja migran yang terlibat di sektor perikanan Asia.

Di Balik Kehidupan di Atas Kapal

Penelitian ini mengurai proses perekrutan tenaga kerja, kehidupan sehari-hari di atas kapal, serta cara para pekerja menavigasi kondisi kerja yang keras: jam kerja panjang, perlakuan tidak adil, dan akses terbatas terhadap perlindungan hukum. Banyak dari mereka hidup dalam sistem yang tidak memberikan kejelasan status, baik sebagai pekerja, migran, maupun manusia.

Menavigasi Zona Abu-abu dalam Sistem Kerja Global

Melalui konsep “zona abu-abu”, riset ini mengungkap bagaimana buruh migran tidak hanya sebagai korban sistem global, tetapi juga sebagai aktor yang aktif menavigasi kompleksitas hukum, sosial, dan ekonomi dalam sistem kerja lintas batas negara. Menariknya, meski bekerja dalam sistem yang rentan, para buruh migran juga menjadi aktor aktif. Mereka membentuk jaringan informal, berbagi informasi, dan menciptakan strategi bertahan. Dalam “zona abu-abu”, mereka tidak hanya sebagai korban sistem, tapi juga sebagai pelaku yang mampu membentuk ulang aturan-aturan tidak tertulis dalam rantai pasok global.

Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam kajian hubungan industrial transnasional, migrasi kerja, dan studi ketenagakerjaan global. Selain mengungkap sisi kelam dari rantai pasok industri perikanan, riset ini juga memperlihatkan bagaimana aktor-aktor migran membangun strategi bertahan hidup dalam sistem yang serba tidak pasti.

Foto Dokumentasi